|
Bagi mereka yang ingin tahu lebih banyak lika-liku profesi wartawan, berikut peran mereka dalam masyarakat, dan kebetulan berada di Washington, DC, ibu kota Amerika Serikat, ada baiknya mengunjungi Newseum, atau museumnya dunia pers Amerika Serikat. Pertama-tama, jangan bandingkan Newseum seperti Museum Pers yang berada di Solo. Ia jauh dari kumuh. Ia megah dan mewah, berada di sebuah gedung tujuh lantai berdinding kaca kebiruan, yang terletak di persimpangan Pennsylvania Avenue—yang menghubungkan Gedung Parlemen Capitol Hill dan istana presiden White House dengan Sixth Street, NW, Washington, DC, dan berdekatan dengan Smithsonian Museums di National Mall. Kalau melihat lokasinya, bukan tanpa sengaja Newseum yang dikelola yayasan swasta ini, berada di pusat politik dan sejarah Amerika Serikat, untuk menunjukkan peran media massa sebagai pilar keempat dalam demokrasi di AS, setelah eksekutif, legislatif, dan yudikatif. Di sini tersaji berbagai atraksi yang memadukan antara teknologi tinggi multimedia dengan sejarah, termasuk sejarah perkembangan pers mulai abad ke-5 sebelum ada mesin cetak, sampai penggunaan alat-alat komunikasi canggih belakangan ini. Di latar muka terdapat prasasti marmer yang bertuliskan kata-kata dalam First Amendment, yang merupakan fondasi kebebasan pers di AS. Dinding-dinding kaca tembus pandang itu sengaja dibuat agar masyarakat yang lalu lalang di jalan bisa melihat peran media menyediakan sebuah forum bagi media dan publik untuk saling memahami. Di gedung tujuh lantai ini terdapat berbagai galeri dan teater, yang semua berkisar pada tema bagaimana dan mengapa berita (news) itu dibuat oleh para wartawan. “Para pengunjung akan mendapat pemahaman yang lebih baik mengenai berita dan peranan penting yang dimainkannya dalam kehidupan kita,” kata Direktur Pelaksana Newseum, Joe Urschel. Fasilitas ini memang baru diresmikan kembali April lalu. Kerja Berisiko Maka, pengunjung yang baru tiba, pertama akan disuguhi tayangan menarik berupa film empat dimensi (4-D) di Walter and Leonere Annenberg Theater, yang menuturkan secara menarik sejarah pers di AS. Karena formatnya 4-D maka seolah-olah pisau bayonet ditodongkan langsung ke depan mata kita, atau desingan peluru, deru angin, percikan air ke muka, bahkan tikus berseliweran di kaki. Ada kisah mengenai Edward R Murrow yang membuat laporan radio secara live dari atas genting di London, ketika kota ini di bom Jerman semasa Perang Dunia II, atau kisah Nellie Bly yang menjadi perempuan detective reporter pertama di AS dengan menyaru sebagai pasien untuk mengungkap buruknya kondisi sanatorium jiwa di abad ke-19. Sebagai appetizer (sajian pembuka) film ini sangat memikat untuk mengajak kita memahami lebih jauh kerja wartawan. Selain itu juga disajikan halaman muka berbagai surat kabar harian utama yang terbit di AS dan beberapa di koran di dunia, misalnya Manila Chronicle dari Filipina. Setiap hari koran-koran itu mengirim secara elektronik edisi koran mereka dan dicetak. Ada theater yang memutar film dokumentasi perjuangan kaum kulit hitam di AS untuk mendapatkan persamaan hak di bidang politik, sosial dan ekonomi, dan itu tercapai tahun 1965 berkat dukungan pers juga. Ada bagian yang memajang hal-hal terkait peran wartawan (maupun yang menjadi korban) pada peristiwa serangan teror 11 September 2001 atas menara kembar WTC di New York. Juga dipajang mobil Datsun yang di bawah jok pengemudi bolong akibat ledakan enam batang dinamit karena sang wartawan mengusut kasus korupsi. Atau mobil truk pikap GMC warna putih milik wartawan yang bodinya penuh lubang peluru karena ditembaki serdadu Serbia di Kosovo, namun kacanya tahan peluru. Foto hasil jepretan seorang wartawan yang meliput pelaksanaan hukuman mati di kursi listrik menggunakan kamera yang disembunyikan di celana, berikut kamera uniknya. Juga dipajang helikopter yang dipakai wartawan TV saat membuat liputan. Jadi, kerja wartawan bukannya tanpa risiko. Mengenang 1.800 Wartawan Di di lantai dasar ada prasasti kaca The Journalists Memorial, yang berisikan nama lebih dari 1.800 wartawan, fotografer, ataupun kru media penyiaran yang gugur ketika menjalankan tugas jurnalistik di berbagai belahan dunia. Di lantai ini pula ada tempat penjualan cendera mata, termasuk kaos-kaos, yang bertuliskan hal menarik seperti “Trust me I’m a reporter”. Mengunjungi Newseum memberi pengalaman berharga bagi siapa saja, termasuk wartawan sekali pun. Kalau mau puas diperlukan lebih dari tiga jam untuk menikmati seluruh wahana di gedung ini. Ujungnya, para pengunjung faham bahwa memang news is a rough history atau berita adalah sejarah yang setengah jadi. Karena yang ditampilkan bukan semata benda-benda yang terkait dengan dunia kewartawanan, mulai yang paling kuno sampai yang paling canggih, tetapi terutama bagaimana dan mengapa wartawan bekerja merekam sejarah sambil ikut menentukan jalannya sejarah melalui kegiatan mereka mengungkap kebenaran lewat berita. Penulis : Kristanto Hartadi Sumber : Sinar Harapan
|