Reservation / Pemesanan

Binde Biluhuta, "Jagung Siram" Gorontalo

JADWAL PESAWAT

Ads on: Special HTML

 

Binde Biluhuta, "Jagung Siram" Gorontalo
Written by Surabaya Tours & Travel   

Begitu tiba di Kota Gorontalo 11 Maret lalu, yang pertama saya cari yaitu tempat makan binde biluhuta yang enak. Saya tidak tahu seluk-beluk kota pantai di Teluk Tomini itu. Ini pertamakali saya ke ke sana. Saya pun belum pernah merasakan binde biluhuta yang disebut juga dengan nama milu siram itu.

Saya hanya tahu binde biluhuta atau milu siram merupakan salah satu khazanah kuliner khas Gorontalo yang berbasis jagung. Warga setempat menerjemahkan binde biluhuta sebagai jagung siram. Sejumlah orang yang saya tanyai di kota yang sejak abad 16 telah menjadi pusat perdagangan untuk wilayah sekitarnya, antara lain untuk daerah Bolaang Mongondow (Sulawesi Utara), Buol Tolitoli, Donggala, dan Luwuk Banggai (Sulawesi Tengah) itu, menyebut nama rumah makan Ci Kea di Jalan Tribrata, daerah Ipilo, Kota Timur, Kota Gorontalo sebagai salah satu tempat makan jagung siram yang enak. Karena saya tiba malam, pagi hari baru saya mencari tempat itu.

Di kota ini tidak ada bus kota, angkot ataupun tukang ojek. Yang ada hanya bentor. Angkutan khas Gorontalo ini merupakan hasil modifikasi becak dan sepeda motor (bentor). Hasilnya, becak tidak lagi dikayuh tenaga manusia tetapi didorong pakai tenaga sepeda motor. Kehadiran bentor itu, sekarang sekitar 25.000 unit di seluruh Gorontalo, dengan seketika menggusur becak, angkot dan tukang ojek dari pusat kota. Abang bentor ramah-ramah jadi saya merasa aman-aman saja ketika menyusuri jalan-jalan utama kota itu.

Ternyata Ci Kea tidak jauh dari tempat saya menginap, hanya terpisah beberapa blok. Ci Kea bukan tempat makan khusus jagung siram. Di situ juga ada bubur menado dan berbagai jenis masakan lain. Ci Kea menyediakan dua pilihan jagung siram yaitu jagung siram pakai ebi (udang kering) atau pakai ikan cakalang. Satu porsi harganya Rp 7.000. Karena penasaran saya pesan dua-duanya: pakai udang kering dan ikan cakalang.

Beberapa saat kemudian dua mangkuk jagung siram yang masih panas sudah ada di atas meja. Seperti apa jagung siram atau binde biluhuta itu? Isinya berupa jagung manis yang dipipil lalu direbus kemudian diberi parutan kelapa, ebi, daun bawang, daun kemangi, bawang goreng, jeruk nipis, kecap, dan cabe rawit yang diulek halus. Dalam variannya yang lain ada yang menambahkan belimbing dan pisang batu. Karena berkuah, jagung siram ini enaknya disajikan selagi masih panas.

Ternyata pesanan saya yang pakai ikan cakalang berbau amis. Yang pakai udang kering hemm… enak juga. Dalam versi ‘aslinya’, jagung siram memang hanya memakai udang kering yang berasal dari Danau Limboto, danau terbesar di Gorontalo. Konon, udang kering dari danau Limboto itu membuat rasa jagung siram jadi lebih enak. Benar atau tidak, entahlah!

Jagung telah menjadi makanan pokok warga Gorontalo sejak dulu. Makanan hasil olahan dari jagung cukup beragam di daerah itu. Sebut saja kokole yaitu jagung muda yang ditumbuk halus lalu diberi santan, gula merah kemudian dikukus. Ada pula balo binde, semacam nasi dicampur jagung.

Sadar bahwa potensi jagung Gorontalo begitu besar, Gubernur Gorontalo Fadel Muhammad pada awal masa jabatannya memproklamirkan Gorontalo sebagai ‘provinsi jagung". Pada tahun 2003 Fadel mengeluarkan aturan yang mematok harga jagung ditingkat petani minimal Rp 900 per kilogram. Saat itu harga pasaran hanya Rp 300 per kilogram. Para pedagang mencak-mencak tapi Fadel bergeming.

Hasilnya, sekarang jagung menjadi komoditas unggulan, sekaligus komoditas ekspor terbesar wilayah itu meski jumlah produksinya masih kalah dibanding dengan Sulawesi Selatan. Produksi jagung Gorontalo tahun 2000 masih sebesar 118.181 ton. Tahun 2001 naik menjadi 131.420 ton. Namun tahun 2004, setelah Fadel mematok harga beli minimal, produksi jagung melonjak jadi 251.214 ton. Tahun 2005, kata Fadel, total panen jagung Gorontalo mencapai 450.000 ton dan tahun lalu 600.000 ton. Tahun ini, ia menargetkan produksi jagung daerah itu bisa menembus angka satu juta ton. Harga pasaran jagung di wilayah itu saat ini sudah mencapai Rp 1.700 per kilogram padahal harga minimal yang dipatok pemerintah hanya Rp 1.200 per kilogram.

Sejauh ini hasil panen jagung itu diekspor dan jual ke sejumlah daerah lain di Indonesia. Pemerintah Provinsi Gorontalo kini hendak membuat terobosan baru. Jagung siram akan dikemas dalam bentuk produk instant seperti mie.Koran setempat awal Maret 2007 memberitakan, Pemprov Gorontalo telah menunjuk seorang peneliti dari Universitas Gorontalo untuk menjajagi kemungkinan pembuatan produk jagung siram instan. Si peneliti saat ini tengah berada di Makassar, Sulawesi Selatan untuk melakukan penelitian. Tunggu saja, siapa tahu tidak lama lagi jagung siram instan dari Gorontalo itu membanjiri supermarket atau kios-kios di sekitar Anda.

Penulis: Egidius Patnistik
Sumber : Kompas

 

Tour Domestik

Yahoo Messenger

Tiketing & Hotel Domestik
surabaya_ticketing01
Tiketing & Hotel Domestik
surabaya_ticketing02
Tiket & Hotel Internasional
surabaya_internasional
Tiket & Hotel Internasional
surabaya_ticketing6
Tour Domestik
surabaya_ticketing03
Sewa Mobil & Bus
surabaya_ticketing03
Tour Inter-Paspor-Visa
yennyliu07
Sub Agent / Marketing
surabaya_ticketing4
Finance
surabaya_ticketing05
Accounting
surabaya_accounting
Kritik/Saran
surabaya_travel

KURS RUPIAH


Warning: fread() [function.fread]: Length parameter must be greater than 0 in /home/surabay4/public_html/modules/mod_bca/mod_bca.php on line 24
sumber : http://www.klikbca.com

Ramalan Cuaca

sumber: bmg.go.id

INFO TERBARU

User Name
E-mail