|
Sabtu pagi, 06.30 WIB. Hujan masih turun rintik-rintik, menyambung hujan semalam. Ah….saya terpaksa bangun juga, karena harus sampai di seberang halte busway Glodok, jalan Kemurnian I tepat pukul 08.00 WIB.
Hari ini saya mau ikutan ber-wisata kuliner di sepanjang kawasan Petak Sembilan yang terkenal dengan beragam makanan enak. Bersama Pak Bondan Winarno dan teman-teman dari Jalan Sutra, pastinya…
Jadilah saya berkumpul bersama rombongan JS-ers lainnya, yang berjumlah 34 orang. Oleh pak Bondan, rombongan dibagi dua. Saya masuk dalam rombongan kedua yang ‘dipimpin’ oleh salah satu anggota JS, Harry. Sedangkan rombongan pertama dikomandani langsung oleh Pak Bondan.
Untunglah hujan sudah mulai mereda. Jadi tidak perlu repot membuka payung. Beberapa diantara rombongan saya adalah Frelon, Daru, Jojo, Sufi dan Vivi. Mulailah kami berjalan ke tujuan pertama kami, Pasar Petak Sembilan. Menembus jalan Kemurnian I, sampailah kami di pasar ini.
Sepintas, tidak ada yang istimewa. Sama seperti pasar tradisional lainnya. Sayuran-sayuran segara, ikan, ayam dan sebagainya. Tetapi, ke dalam lagi, menyusuri sepanjang jalan Petak Sembilan, terlihat suasana lain.
Di beberapa toko tampak menyediakan berbagai macam masakan dan makanan khas China. Sayangnya, karena terburu-buru, saya tidak sempat mampir ke toko-toko tersebut. Nuansa pecinan tempo dulu juga terlihat dari bangunan-bangunan sepanjang Petak Sembilan.
Sayangnya, pagi itu Petak Sembilan juga tampak tidak ‘ramah’. Di sepanjang jalan tampak petugas keamanan berseragam berjaga-jaga mengamati para pedagang. Rupanya sejak beberapa waktu lalu, para pedagang dilarang lagi berjualan di tengah jalan. Dan hanya diperbolehkan berdagang di sepanjang trotoar.
Melewati keriuhan Petak Sembilan, kami menyeberang menuju kawasan Pancoran, persis di samping pertokoan Gloria. (Hmm..jadi ingat peramal nasib yang saya temui waktu itu di Gloria…)
Di sepanjang jalan Pancoran, berjejer beragam makanan, maaf, dari yang halal hingga yang tidak halal bagi sebagian orang. Nasi campur, nasi tim, bebek panggang, bakso goreng, siomay, soto betawi, gado-gado, mie kangkung dan masih banyak lagi.
Kami menyusuri sepanjang Pancoran, melewati makanan demi makanan yang begitu menggoda. Di akhir jalan, kami belok kiri. Di gerai makan itulah gado-gado direksi disajikan. Direksi? Well, konon banyak pejabat tempo dulu yang menjadi pelanggan gado-gado ini.
Ada pemandangan yang selalu khas di setiap kawasan masyarakat China ini. Seperti yang terlihat di pagi hari di salah satu sudut tempat makan itu. Di sebuah meja bundar, terdapat bapak-bapak yang sedang ber yam cha (jamuan minum teh khas China). Mereka asyik ngobrol, tertawa. Sambil sesekali membaca koran. Santai…
Kami pun ramai-ramai mencicipi beraneka ragam masakan andalan kawasan Pancoran ini. Selain Gado-gado Direksi, kami juga mencoba Mie Kangkung Jangkung, Rujak Juhi dan Sop Ikan Batam.
Agar tidak kekenyangan, satu porsi makanan dicicipi ramai-ramai. Sebelumnya, kami memang sudah dibekali oleh dua mangkuk kecil yang terbuat dari stereofoam., untuk berbagi makanan. Saya berbagi dengan Vivi, Daru, Frelon dan Harry. Mereka juga teman-teman yang menyenangkan.
Meski baru kenal, tapi kami sudah bisa mengobrol banyak hal, apalagi sebagian memang juga kali pertama ikut penjelajahan kuliner bareng Jalan Sutra, seperti saya. Tak lama, datanglah pesanan Gado-gado Direksi, Rujak Juhi dan Mie Kangkung. Sop ikan datang belakangan, karena itu memang pesanan tambahan dari Frelon.
Hmm…gado-gadonya memang enak. Adonan kacang dan bumbu yang pas membuat gado-gado ini terasa pas di lidah. Pas deh, kalau menjadi idola para direksi. Begitu juga dengan rujak juhi-nya, terasa segar dan tambahan kelezatan dari untaian-untaian juhi di atasnya. Harry juga tak lupa membawa pulang dua bungkus rujak juhi.
Lalu beralih ke Mie Kangkung. Dari aromanya, sudah tercium bau yang begitu menggoda. Sayangnya, pagi itu ramuan Mie Kangkungnya agak keasinan. "Agak asin nih kuahnya, " kata teman sebelah saya. Vivi. Jadi, yah, agak sedikit mengurangi kelezatan rasa Mie Kangkung Jangkung. Tetapi, tetep…enak!
Setelah itu, kami menuju Toko Kawi, yang terletak di sudut Pancoran, tidak jauh dari tempat kami makan gado-gado. Di tempat ini, banyak makanan-makanan khas China yang jarang ditemui di tempat lain.
Misalnya, paha bebek asin, apphien nyuk (dada bebek) asin, ham, jamur putih, rumput laut, ubur-ubur, telur pitan, ramuan liang teh hingga buah asli Loo Huan Kuo. Pokoknya, menyenangkan deh melihat barang-barang menarik yang ada di sana.
Setelah puas berbelanja, kami melanjutkan perjalanan ke Warung Kopi Tak Kie, yang terkenal dengan kopi esnya. Well, hujan turun lagi, kecil-kecil tapi lumayan deras. Jadi bagi yang tidak bawa payung, yah harus berlarilari kecil menuju Tak Kie. Rasa kopinya memang mantap. Kental dan pekat. Bagi pecinta kopi, tak ada ruginya mencoba kopi di warung kopi tempo dulu ini.
Kami juga mencoba Pi Oh (sup bulus) Tim Atong. Bulus? Hmm…lama sekali saya tidak memakan bulus. Terakhir, waktu kecil dulu, berpuluh tahun lalu. Ternyata rasanya nikmat. Dagingnya juga empuk dan lembut di lidah. Kuahnya juga sedap dan segar. Konon, Pi Oh juga berguna bagi kesehatan kulit.
Menu lain, yakni bebek panggang sedap wangi yang lezat. Wow, rasanya benar-benar yummy. Apalagi ketika menyantap isrisan bebek ini dengan kulit luarnya yang berwarna kemerahan dan agak ‘garing’. Ditambah dengan sausnya yang membuat rasa daging bebek semakin gurih. Hmm.terpaksa saya harus membelinya untuk dibawa pulang, mengikuti teman-teman yang lain. Habis, memang so yummy.
Masih ada lagi menu lain, yakni Nasi Tim Ayam Ah Ngo Rasanya, sudah bisa dipastikan, sedap. Nasi timnya juga sangat lembut. Jika ingin menyantap nasi tim dan juga pi oh di Tak Kie ini, harus datang pagi-pagi, sebelum jam 10.00 WIB. Biar nggak kehabisan, bo!
Kami, peserta non muslim juga mencoba Sekba, masakan jeroan babi berkuah (punten pisan euy, buat yang muslim). Lagi-lagi, rasanya nikmat dengan kuahnya yang segar. Selagi masih asyik makan, Pak Bondan menghampiri kami, mohon pamit, sebab, harus menjemput kloter kedua peserta wisata kuliner pada jam 10.00 WIB di seberang halte busway Glodok.
Dan, kami pun masih asyik dengan obrolan kami, sambil saling bertukar kartu nama sesama peserta. Tiba-tiba, datanglah rombongan Jalan Sutra kloter kedua di Warung Tak Kie. Wah, berarti kami sudah terlalu lama ngobrol kali !
Waktu memang sudah menunjukkan pukul 10.15 WIB. Sudah saatnya pulang, bertukar dengan rombongan kedua, sambil membawa kenangan-kenangan dari Petak Sembilan pagi itu. Duh, masih hujan euy…saya pun berlari-lari kecil menuju halte busway…sambil membayangkan makan siang dengan bebek Sedap Wangi…Hmmm!!!
Penulis: Angelina Maria Donna Sumber : Kompas
SURABAYA TOURS & TRAVEL
|